Langsung ke konten utama

Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Lewat Cerita

Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Lewat Cerita
Haruskah kita menguasai suatu ilmu untuk menjadikannya cerita?

Cerita yang bagus adalah cerita yang mendekati kenyataan. Semakin nyata cerita itu akan semakin baik. Tapi saya tidak hendak mengharuskan untuk membuat cerita berdasarkan kisah nyata. Bahkan kisah fantasi sekalipun dalam perebutan tahta akan menjadi luar biasa jika menggunakan ilmu politik sungguhan. Cerita bisa menjadi salah satu metode yang baik untuk mengenalkan dan mengajarkan suatu disiplin ilmu. Contohnya seperti Dunia Sophie yang mengisi ceritanya dengan ilmu filsafat. Penulis sangat menyarankan untuk memasukkan suatu ilmu ke dalam cerita, agar cerita ini tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tapi juga mengajarkan kehidupan.

Masalahnya adalah, ketika hendak memasukkan suatu ilmu ke dalam cerita, kita harus memikirkan dua hal yakni variabel ilmu pengtahuan dan variabel cerita itu sendiri. Bagaimana kalai kita ingin memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam cerita, tapi kita masih awam terhadap ilmu pengetahuan itu? Haruskah kita menguasai ilmu itu dulu?

Pertama, kita harus tahu apa itu cerita, dan apa kedudukan ilmu di dalam cerita. Menurut KBBI, cerita adalah narasi suatu kejadian. Dalam fiksi, cerita memiliki unsur-unsur cerita yakni alur, tokoh, setting, amant, dll. Sementara ilmu adalah pengetahuan yang terstruktur. Tidak hanya hasil tahu kita terhadap realitas materi maupun imateri, tapi juga disusun secara sistematis, dengan metode tertentu dan pendekatan tertentu, untuk mengasilkan kesimpulan yang mendekati kebenaran. Karena duni ini bekerja dengan hukum-hukum ketetapan (sunatullah) baik di pengetahuan alam maupun pengetahuan sosial, maka kita bisa menggunakan ilmu untuk memecahkan masalah di berbagai bidang kehidupan kita. Seperti masalah keuangan, kita menggunakan ilmu ekonomi, jika sakit menggunakan ilmu kedokteran, dll.

Ilmu lebih bisa memecahkan masalah dibandingkan dengan tahayul. Karena kesimpulan yang diambil dianalisa secara ketat, kalau pun ada kesalahan akan mudah dicarai tahu di mana kesalahannya, kemudian dilakukan evaluasi untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih baik. Jika tahayul atau mitod tidak terjamin untuk digunakan sebagai pemecahan masalah karena tidak melalui tahap pembuktian. Kesimpulan yang didapat terlalu mudah disimpulkan dari pengetahuan sehari-hari. Tidak heran apabila orang-orang sukses di puncak karir adalah orang-orang yang mengerti ilmu di bidangnya.

Pendidikan ada untuk menyetak generasi melek ilmu. Namun mempelajari ilmu, kadang pelajar bosan karena tidak mengerti nilai pentingnya atau sulit untuk memahami materi yang dibahas.

Disinilah cerita muncul seabagai salah satu pemecahan masalah untuk membangun minat terhadap ilmu, memudahkan penjelasan suatu teori, dan mentransfer sebuah ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, penulis sangat menyadari keterbatasan cerita untuk menyampaikan ilmu secara utuh. Namun cerita dapat menjadi tahap awal untuk membangun nilai penting suatu ilmu, memberikan wawasan mengenai ilmu terkait, sehingga harapannya pembaca akan tertarik dan mudah untuk belajar. Jika penerapan ilmu dalam cerita ini sangat baik, tidak jarang bisa menjadi rujukan studi kasus penelitian-penelitian ilmiah atau karangan non-fiksi.

Jika begitu, apakah kita harug menguasai suatu ilmu untuk memasukannya ke dalam cerita?

Sebenarnya kata-kata menguasai ilmu di sini terlalu luas. Sampai mana pembahasan suatu ilmu harus kita kuasai? Jika yang kita maksud adalah menguasai ilmu hingga ke tingkat mahir, tentu kita harus sekolah dulu hingga meraih gelar profesor baru kita bisa menulis cerita. Saya tidak menyalahkan cara ini--karena penulis Dunia Sophie, Jostein Gardner kenyataannya adalah dosen filsafat--tapi saya tidak merekomendasikannya juga.

Sama seperti ketika hendak menyelesaikan masalah sehari-hari, hingga karya tulis ilmiah, kita hanya menggunakan ilmu terkait sesuai dengan rumusan masalah. Kita hanya perlu menguasai ilmu aritmatika jika hendak berjualan di pasar. Berbeda dengan seorang arsitek yang harus sampai menguasai ilmu geometri dan trigonometri. Begitu pula dengan memasukkan suatu ilmu ke dalam cerita. Kita harus memastikan kita menguasai ilmu yang dibutuhkan untuk cerita itu. Seperti contohnya Dunia Sophie yang hendak mengajarkan pengantar filsafat umum, maka setidaknya penulis menguasai pengantar filsafat umum, tidak perlu hingga ke tataran spesifik seperti filsafat politik atau filsafat ekonomi. Sama seperti ilmu ekonomi yang disampaikan di Negeri Para Bedebah, setidaknya Tere Liye memahami dosar ilmu ekonomi perbankan dan mekanisme keuangan.

Bagaimana cara membubuhkan ilmu pengetahuan dalam cerita? Ada dua jenis cara penyampaian, yakni dengan teks maupun tindakan. Dengan teks, berarti di dalam cerita disampaikan secara eksplisit ilmu terkait, lewat tulisan maupun lisan, seperti Dunia Sophie atau Negeri Para Bedabah. Dengan tindakan, berarti ditunjukkan penerapan ilmu pengetahuan tersebt ke dalam cerita sebagai studi kasus. Seperti Sherlock Holme mengenai pengamatan, dan Lie to Me mengajarkan ilmu membaca ekspresi wajah. Ilmu-ilmu strategi dan sejarah juga bisa masuk ketegori ini. Seperti strategi perang dalam cerita di film Redcliff, dan sejarah dalam film Luther atau film Umar bin Khattab. Selanjutnya, diserahkan kepada kemampuan dan kreativitas penulis untuk mengemas ilmu agar bisa dipahami dan membuat cerita tidak membosankan agar pembaca menikmatinya.

Dengan menyebarkan ilmu pengetahuan, kita berarti turut berpedan dalam pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti cita-cita luhur Bangsa Indonesia. Kita juga dapat semakin meningkatkan kualitas diri kita, tertuntut untuk mempelajari hal-hal baru. Dengan ilmu pengetahuan, kita tidak hanya membuat karya-karya menarik, tapi karya-karya besar. Mengajarkan ilmu pengetahuan juga berarti menanam amal jariyah untuk dipanen di kehidupan selanjutnya nanti. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha 20:114)

Komentar